Jumat, 04 Mei 2012

Pengembangan Kepiting Soka


Salah satu potensi usaha yang berpeluang  untuk dikembangkan adalah perikanan budidaya, baik budidaya air tawar, air payau, maupun air laut. Produksi perikanan budidaya di Jwa Tengah meningkat dari 128.705,8 ton dengan nilai Rp.1.325 trliliun pada tahun 2008 menjadi 145.015.1 ton pada 2009 dengan nilai Rp.1,593 triliun. Sedang pada tahun 2010 produksi perikanan budidaya mencapai 189.949,42 ton dengan nilai Rp.2,188 triliun. Di Jawa Tengah, potensi air payau cukup besar guna dimanfaatkan untuk melakukan usaha budidaya perikanan dengan berbagai komoditas yang menguntungkan.
Pada tahun 2008, luas lahan budidaya air payau atau tambak tercatat 33.412,9 ha dan luasan tersebut cenderung meningkat dari tahun ketahun. Pada tahun 2009 luasnya 41.676,9 ha dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 43.244,6 ha. Komoditas yang dapat dibudidayakan di tambak antara lain ikan bandeng, belanak, patin, kerapu, udang ,kepiting dan masih banyak lainya. Diantara berbagai jenis tersebut, kepiting  merupakan salah satu  komoditas ekspor yang sangat menjanjikan karena banyak diminati dan pangsa pasarnya luas. Daging kepiting mengandung  nutrisi tinggi, penting bagi kesehatan manusia dan diyakini dapat mencegah  kanker dan  pengrusakan kromosom, juga meningkatkan daya tahan terhdap infeksi virus dan bakteri, serta rasanya enak.
Di Jawa Tengah ,daerah yang giat dalam pengembangan budidaya kepiting  antara lain Kabupaten Pemalang. Kepiting yang dibudidayakan di Pemalang dikenal dengan nama kepiting soka/kepiting kulit lunak/kepiting lemburi. Kepiting ini adalah kepiting bakau yang dibudidayakan dan dilakukan pemanenan saat ganti kulit (moulting) sehingga cangkangnya lunak dan dapat dikonsumsi. Benih yang digunakan dapat berasal dari semua  species kepiting  yang ukuran lebar karapasnya 5-7cm dengan berat berkisar  anatara 70-15- gram/ekor/. Benih yang dikembangkan
untuk produksi kepiting  soka diperoleh dari penangkapan alam yang mempunyai organ tubuh lengkap, warna cerah dan tidak cacat atau luka pada bagian perut. Pembudidayaan kepiting soka umumnya dilakukan pada tambak air payau dan dipelihara dalam keranjang  secara individu karena kepiting bakau mempunyai kecenderungan bersifat kanibal.
Agar berhasil baik, lokasi pembudidayaan kepiting soka harus mengikuti habitat alaminya, yaitu air payau yang masih banyak ditumbuhi mangrove. Kepiting  soka dapat dipelihara secara tumpang sari (Polikultur) dengan rumput laut, bandeng dan udang. Pakan yang diberikan adalah ikan rucah segar yang dipotong-potong kecil dengan dosis pemberian antara 10-15% dari bobot kepiting /hari, sebanyak  2 kali sehari (pagidan sore).
Untuk mendapat kankepiting soka/lemburi, dilakukan pengontrolan setiap 3 jam sekali. Pada umunya proses moulting banyak terjadi pada waktu malam hari. Pada tahun 2009, produksi kepiting soka Kabupaten Pemalang  sebanyak 18,2 ton dan pada 2010 mencapai 25,3 ton. Kepiting  soka yang berkualitas bagus dan tidak cacat diekspor dalam bentuk segar antara lain ke Aamerika , China, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia dan sejumlah negara di Kawasan Uni Eropa, dan sisanya dipasarkan kerumah makan lokal Pemalang dan sekitarnya. Dinegara-negara tersebut, kepiting merupakan menu restoran yang cukup bergengsi dan bernilai mahal. Produk kepiting Pemalang juga memenuhi aspek keamanan pangan (food safety) karena proses produksinya  tidak menggunakan obat-obatan, bahan kimia maupun  antibiotik.
Pembudidayaan kepiting soka selain memberikan pendapatan bagi masyarakat pembudidayaan sekaligus juga mejadi upaya rehabilitasi dan perlindungan lingkungan pantai dari bahaya abrasi sehingga kelestarianya dapat dijaga.

Tidak ada komentar:

Sekilas Info

« »
« »
« »

Páginas