Jumat, 06 Juli 2012

REVOLUSI PERMANEN

Lanjutan Marxisme dan Perjuangan Melawan Imperialisme
Teori revolusi permanen pertama dikembangkan oleh Trotsky di awal 1904. Revolusi permanen, sambil menerima bahwa tugas-tugas objektif yang menghadang pekerja Rusia adalah tugas-tugas revolusi demokratik kaum borjuis, juga secara bersamaan menjelaskan bagaimana di dalam sebuah negara terbelakang dan di dalam jaman imperialisme, "borjuasi nasional", di satu sisi berkaitan secara tak dapat dipisahkan dengan feodalisme yang tersisa sekaligus juga di sisi lainnya berkaitan dengan kapital milik kaum imperialis, dan oleh karena itu borjuasi nasional sepenuhnya tidak mampu mengemban tugas historis apapun. Kebusukan kaum borjuis liberal dan peran kontra revolusioner mereka dalam revolusi borjuis demokratis telah diamati oleh Marx dan Engels. Dalam artikelnya Borjuasi dan Kaum Kontra-Revolusi (1848), Marx menulis :
"Borjuasi Jerman telah berkembang dengan begitu malas, secara berat dan lamban di saat di mana dengan terancam ia menghadapi feodalisme dan absolutisme, ia juga melihat dirinya begitu terancam berhadapan dengan kaum proletar serta segala faksi warga kota yang memiliki berbagai kepentingan dan ide-ide yang bersaudaraan dengan ide serta kepentingan yang dipunyai kaum proletar. Dan ia melihat kesatuan tempur yang amat bermusuhan dnegannya bukanlah satu kelas di belakangnya, melainkan seluruh Eropa di hadapannya. Borjuasi Prusia bukanlah, sebagaimana borjuasi Perancis di tahun 1789, kelas yang merepresentasikann seluruh masyarakat modern vis-a-vis wakil-wakil masyarakat lama, monarki dan kaum bangsawan. Ia telah terbenam ke level sejenis lapisan sosial pemilik tanah, menentang kerajaaan sama jelasnya dengan ia menentang rakyat, ingin sekali menjadi oposisi bagi keduanya. Ragu-ragu melawan tiap lawannya, sendirianlah ia, sebab ia senantiasa melihat keduanya tadi di belakang atau di depannya; ia merosot hingga mengkhianati rakyat dan berkompromi dengan wakil-wakil kerajaan yang berasal dari masyarakat lama sebab ia sendiri milik masyarakat lama." (Karl Marx, Borjuasi dan Kaum Kontra Revolusi, MESW, volume 1, halaman 140-1).


Marx menjelaskan, borjuasi tidak mencapai kekuasaan sebagai hasil dari kerja keras revolusionernya sendiri, melainkan sebagai sebuah hasil dari gerakan massa di mana dalam gerakan ini ia tidak memainkan peranan apa-apa. Borjuasi Prusia terlempar ke ketinggian kekuasaan negara, bagaimanapun juga tidak dengan cara hal itu diinginkannya, yaitu dengan sebuah tawar menawar yang damai dengan kerajaan, melainkan dengan sebuah revolusi." (Karl Marx, Borjuasi dan Kaum Kontra Revolusi, MESW, volume 1, halaman 138).

Bahkan dalam jaman revolusi borjuis demokratik di Eropa, Marx dan Engels tanpa ampun membuka kedok peran kontra revolusioner, pengecut, dari borjuasi dan menitikberatkan keharusan bagi para pekerja untuk memelihara suatu kebijakan mengenai independensi kelas sepenuhnya, tidak hanya independensi dari kaum borjuis liberal, tetapi juga dari kaum demokrat borjuis kecil:
"Kaum Proletar, atau partai yang benar-benar revolusioner," tulis Engels, "berhasil hanya dengan amat bertahap dalam penolakan massa kelas pekerja terhadap pengaruh kaum demokrat yang memiliki ikatan yang dibangun saat permulaan revolusi. Dalam waktu yang pasti, kelemahan hati dan kepengecutan para pemimpin kaum demokratik melakukan langkah mundur, dan sekarang mungkin yang bisa dikatakan sebagai satu dari hasil-hasil utama ledakan tahun kemarin adalah bahwa di manapun kelas pekerja terkonsentrasi dalam apapun yang serupa massa yang sangat besar, mereka sepenuhnya terbebaskan dari bentuk pengaruh demokrasi yang menggiring mereka ke dalam serial blunder dan kesialan tak ada akhirnya sepanjang 1848 dan 1849." (F. Engels, Revolusi dan Kontra Revolusi di Jerman, MESW, volume 1, halaman 332.)

Situasi itu lebih jelas lagi saat ini. Borjuasi nasional di negara-negara kolonial amatlah terlambat masuk ke dalam babakan sejarah, ketika dunia telah terbagi-bagi di antara kaum imperialis yang sedikit. Ia tidak maampu memaikan peranan progresif apapun dan telah sepenuhnya tersubordinasi kepada tuan-tuan yang dulu menjajahnya. Borjuasi yang lemah dan merosot akhlaknya di Asia, Amerika Latin, dan Afrika terlalu bergantung kepada modal asing dan imperialisme, untuk memajukan masyarakat. Borjuasi itu terikat dengan ribuan benang, tidak hanya kepada modal asing tetapi juga dengan kelas pemilik tanah yang dengannya ia membentuk suatu blok reaksioner yang menghadirkan sebuah benteng penghadang terjadinya kemajuan. Apapun perbedaan yang mungkin ada di antara elemen-elemen ini, semuanya tidak signifikan dibandingkan dengan ketakutan yang menyatukan mereka untuk melawan massa. Hanya kaum proletariat, bersekutu dengan kaum tani miskin dan kaum urrban miskin, yang mampu memecahkan masalah-masalah di masyarakat dengan mengambil kekuasaan ke tangannya sendiri, mengambil alih milik kaum imperialis dan borjuasi, serta memulai tugas mentrasformasikan masyarakat di atas garis sosialis.

Dengan menempatkan dirinya di kepala bangsa, memimpin lapisan-lapisan tertindas di masyarakat (kaum borjuis kecil di daerah rural urban), kaum proletar dapat mengambil kekuasaan dan kemudian mengemban tugas-tugas revolusi borjuis demokratik (terutama land reform dan penyatuan negara, serta pembebasan negara dari dominasi asing). Bagaimanapun, sekali telah memegang kekuasaan, kaum proletar tidak akan hanya berhenti di situ, melainkan akan mulai mengimplementasikan cara-cara sosialis mengenai pengambillalihan milik kaum kapitalis. Dan sebagaimana tugas-tugas ini tidak dapat dipecahkan di dalam satu negeri melulu, khususnya tidak di sebuah negara terbelakang, hal ini akan menjadi awal mula dari revolusi dunia. Jadi, revolusi itu "permanen" dalam dua pengertian: sebab ia mulai dengan tugas-tugas kaum borjuis dan berlanjut dengan tugas-tugas kaum sosialis, dan sebab ia mulai di satu negara dan berlanjut pada tingkat internasional.

Teori revolusi permanen adalah jawaban yang paling utuh bagi posisi kaum reformis serta kaum kolaborator kelas di sayap kanan gerakan kaum pekerja Rusia, yaitu kaum Menshevik. Teori dua tahap dikembangkan oleh kaum Menshevik sebagai perspektif mereka untuk revolusi Rusia. Secara mendasar teori ini menyatakan bahwa, karena tugas revolusi adalah tugas-tugas revolusi nasional borjuis demokratik, maka kepemimpinan dari revolusi harus ditangani oleh borjuasi demokratik nasional. Untuk pendapatnya sendiri, Lenin setuju dengan Trotsky bahwa kaum liberal Rusia tidak dapat mengadakan revolusi borjuis demokratis, dan bahwa tugas ini hanya dapat diadakan oleh kaum proletariat dalam persekutuannya dengan kaum tani miskin. Mengikuti jejak langkah Marx, yang telah menggambarkan "partai demokratik" kaum borjuis sebagai "jauh lebih berbahaya bagi para pekerja daripada kaum liberal yang terdahulu", Lenin menjelaskan bahwa borjuasi Rusia, jauh dari menjadi sekutu kaum pekerja, akan tak dapat dielakkan lagi bersisian dengan kaum kontra revolusi.

Tahun 1905 ia menulis, "Di tengah massa, tak akan terhindarkan, kaum borjuis pastilah mendekati kontra revolusi dan melawan rakyat secepat kepentingan-kepentingannya yang picik dan mau menang sendiri itu bertemu, secepat itulah ia 'mencelat' dari demokrasi konsisten (dan ia memang telah berkecut hati karena ini!)".; (Lenin, Selected Works, volume 9, halaman 98.)

Dalam pandangan Lenin, kelas mana yang mampu memimpin revolusi demokrasi-borjuis? "Tetaplah 'rakyat', yaitu, kaum proletar dan kaum tani. Kaum proletar sendiri dapat dipercaya untuk melakukan marching hingga ke akhir, jauh melampaui revolusi demokratik. Itulah mengapa kaum proletar bertempur di garis depan demi sebuah republik dan dengan menghina ia menolak saran bodoh dan tak berharga untuk mempertimbangkan kemungkinan borjuasi mencelat mundur." (Ibid)

Dalam semua pidato dan tulisan Lenin, peranan kontra-revolusi kaum demokratik-borjuis Liberal selalu ditekankan, terus menerus. Bagaimanapun, hingga 1917, Lenin tidak yakin bahwa kaum pekerja Rusia akan bisa mencapai kekuasaan sebelum terjadi revolusi sosialis di Barat &endash;ini satu perspektif yang sebelum 1917 hanya dipertahankan oleh Trotsky. Tahun 1917 hal ini diadopsi sepenuhnya oleh Lenin dalam Tesis-tesis April-nya. Kebenaran teori revolusi permanen secara gilang-gemilang ditunjukkan oleh Revolusi Oktober sendiri. Kelas buruh Rusia &endash;sebagaimannna telah diramalkan oleh Trotsky di tahun 1904&endash; meraih kekuasaan sebelum kaum buruh dari Eropa Barat. Mereka menyelenggarakan semua tugas-tugas Revolusi demokratik-borjuis, dan langsung memulai nasionalisasi industri dan menempuh tugas-tugas revolusi sosialis. Kaum borjuis memainkan sebuah peranan kontra revolusioner secara terbuka, tetapi dikalahkan oleh kaum buruh dalam aliansinya dengan kaum tani miskin. Kemudian kaum Bolshevik membuat suatu himbauan revolusioner kepada kaum buruh di seluruh dunia untuk mengikuti contoh mereka. Lenin mengetahui dengan baik bahwa tanpa kemenangan revolusi di negara-negara kapitalis yang maju, terutama Jerman, revolusi tidak dapat bertahan dalam keadaan terisolasi, terutama di sebuah negara terbelakang seperti Rusia. Apa yang kemudian terjadi memperlihatkan bahwa hal ini sepenuhnya benar. Pendirian dari (Komunis) Internasional Ketiga, partai dunia dari kaum sosialis, adalah manifestasi kongkrit dari perspektif ini.

Jikalau Komunis Internasional tetap kukuh berada di atas posisi yang dibuat oleh Lenin dan Trotsk,y tentulah kemenangan revolusi di tingkat dunia telah dapat dipastikan. Malangnya, tahun-tahun pertumbuhan Komintern bertepatan dengan maraknya kontra revolusi kaum Staslinis di Rusia, yang memiliki akibat yang sangat menghancurkan bagi Partai Komunis di seluruh dunia. Birokrasi Stalinis, memiliki kontrol yang mendalam di Uni Soviet, mengembangkan sebuah pandangan yang amat konservatif. Teori bahwa sosialisme dapat dibangun dalam satu negara &endash;sebuah hal yang amat dibenci dalam sudut padang pendirian Marx dan Lenin&endash; sangat mencerminkan mentalitas birokrasi yang telah mengalami cukup berbagai tekanan dan stress dari revolusi dan berusaha untuk bisa berjalan terus dengan mengadakan tugas-tugas mengenai "membangun sosialisme di Rusia". Bisa diikatakan, mereka ingin melindungi dan memperluas kewenangasn mereka dan tidak "mengotori" sumber daya negara dengan cara mengejar revolusi di tingkat dunia. Pada sisi lain, mereka takut bahwa revolusi di negara-negara lain dapat berkembang pada garis yang sehat dan hal itu merupakan ancaman terhadap dominasi mereka sendiri di Rusia, dan oleh karena itu pada satu tahap tertentu, secara aktif mereka berusaha menghalang-halangi terjadinya revolusi di tempat-tempat lain.

Daripada mengejar sebuah kebijakan revolusioner berdasarkan pada independensi kelas, sebagaimana senantiasa diadvokasikan Lenin, mereka mengajukan sebuah aliansi Partai Komunis dengan "kaum borjuis progresif nasional" (dan jikalau tidak ada kum ini yang tersedia begitu saja, mereka telah mempersiapkan diri untk melakukan intervensi terrhadapnya) untuk mengadakan revolusi demokratik, dan setelahnya, menyusul, di kelak kemudian hari yang jauh, saat negara telah mengembangkan perekonomian yang menghilangkan kaum kapitalis sepenuhnya, barulah ada perjuangan demi sosialisme. Kebijakan ini menghadirkan sebuah jurang yang sama sekali berpisah dengan Leninisme dan sebuah titik balik kepada posisi kuno yang amat tercemar dari Menshevisme &endash;inilah teori "dua tahapan". 

Tidak ada komentar:

Sekilas Info

« »
« »
« »

Páginas